.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....WELCOM.....

Minggu, 06 Mei 2012

PROFESIONALISME GURU MEMERLUKAN PARTISIPASI AKTIF PGRI SEBAGAI ORGANISASI PROFESI


Teringat akan perkataan bijak akan guru menyatakan bahwa “ guru merupakan panutan dan sebagai sumber ilmu bagi muridnya sampai kapanpun posisi/ peran guru tidak akan bisa digantikan sekalipun dengan mesin canggih”.
Cukup terbukti penyataan tersebut bahwa Sampai hari ini masih diyakini bahwa salah satu pilar penting dalam membangun sebuah bangsa yang berkeadaban adalah pendidikan. Dengan pendidikan yang baik, sebuah bangsa juga akan bisa menjadi baik. Dan sebaliknya apabila pendidikan dalam suatu bangsa berada dalam keadaan yang memperihatinkan (tidak baik/terpuruk), maka itu juga akan menjadi awal kehancuran bangsa tersebut.
Bicara pendidikan dan kemajuannya maka banyak hal yang akan mempengaruhi, mulai dari kebijakan pemerintah, fasilitas yang digunakan dan juga guru sebagai unsur terpenting dalam pendidikan. Dari beberapa komponen tersebut guru memiliki peranan sangat penting dalam mensukseskan pendidikan. Sebab guru merupakan unsur yang paling banyak berinteraksi dengan anak didik baik dalam proses pembelajaran di kelas ataupun di luar kelas. Sehingga dengan demikian keberadaannya akan sangat berpengaruh terhadap keberadaan anak didik. Ia (Guru) menjadi ujung tombak dalam menentukan keberadaan anak didik.
Sebagai ujung tombak yang akan menentukan hitam putihnya dimensi pendidikan kedepan, maka guru harus benar-benar menyadari bahwa dipundaknyalah masa depan anak didik, masa depan pendidikan dan masa depan bangsa berada. Sehingga dengan kesadaran tersebut maka ia akan memahami apa yang harus dilakukan untuk memberikan yang terbaik dalam proses pendidikan.
Untuk memantapkan peranannya dan untuk bisa memberikan yang terbaik bagi pendidikan, maka kualitas atau profesionalisme guru menjadi prasayarat utama untuk diperhatikan. Dengan profesionalisme seorang guru akan mampu mangangkat pendidikan kita dari keterpurukan. Sehingga profesionalisme menjadi modal yang paling utama yang harus dimiliki oleh seorang guru. Jika tidak, maka ia (guru) tidak akan bisa bebuat apa-apa bagi pendidikan.
Profesionalisme guru dibutuhkan dalam tiap proses pendidikan, utamanya dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, profesionalisme menjadi modal yang utama. Ketika guru tidak profesional, maka jelas tidak akan mampu melakukan proses pembelajaran dengan efektif. Jika proses pembelajaran tidak efektif maka itu juga akan sangat berpengaruh terhadap capaian pendidikan.
Dalam proses pembelajaran profesionalisme yang harus dimiliki oleh seorang guru minimal yang pertama, penguasaan terhadap disiplin ilmu yang menjadi pegangannya. Penguasaan terhadap materi dan tidak hanya terpaku pada materi yang ada dalam buku-buku yang sudah biasa atau sering disebut dengan buku paket akan sangat menentukan terhadap proses pembelajaran. Dan ketika guru tidak paham secara utuh terhadap disiplin ilmu yang diajarakan, maka jelas akan kesulitan dalam melakukan proses pembelajaran. Itulah yang akan menjadi awal kegagalan guru dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.
Kedua, Selain menguasai terhadap disiplin ilmu yang diajarkan, seorang guru juga harus kaya dalam hal metoda pembelajaran. Kemampuan pemahaman keilmuan yang tidak diiringi dengan kekayaan metode juga akan mengalami kegagalan dalam proses pembelajaran. Sebab dengan demikian pesan atau nilai yang akan disampaikan terhadap anak didik ketika tidak menggunakan metode yang pas maka akan sulit untuk dipahami. Dengan sendirinya pemahaman yang mantap tanpa metode yang pas juga akan sia-sia. Anak didik juga tidak bisa menerima apa-apa dari gurunya.



DAFTAR PUSTAKA

Bafal, Ibrahim. 2003. Peningkat Profesional Guru Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara

Gie Liang. 1999. Pendidikan Ilmu di Negara Indonesia. Yogyakarta: PUBIB

Kartono. 2002. Menebus Pensdidikan yang Tegadai. Yogyakarta: Kanisus

Musaheri. 2009. Ke-PGRI-an. Sumenep: DIVA Press

PGRI BERJUANG MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU


Profesi guru pada sat ini masih banyak diperbincangkan oleh khalayak ramai, baik dari kalangan pakar pendidikan baik diluar pakar pendidikan. Bahkan selama dasawarsa terakhir ini hampir setiap hari, media massa khususnya media cetak baik harian maupun mingguan memuat berita tentang guru. Ironisnya banyak yang cenderaung melecehkan posisi guru.
Masyarakat/ orang tua siswa pun kadang – kadang mencemooh dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan sebagainya. Manakala putra / putrinya tidak bisa menyelesaikan persolan yang dihadapinya atau memiliki kemampuan tidak sesuai dengan keinginannya.
Sikap dan perilaku masyarakat tersebut memang bukan tanpa alasan. Memang sebagian kecil oknum guru yang menyimpang dari kode etiknya. Anehnya lagi kesalahan sekecil apa pun yang diperbuat guru memancing reaksi yang begitu hebat dimasyarakat. Hal ini dapt dimaklumi karena dengan adanya sikap demikian menunjukkan bahwa memang guru seyogyanya menjadi anutan dari masyarakat.
Sebetulnya berbagai permasalahan yang terjadi tidak seharus guru yang dijadikan sebagai kambing hitamnya akan tetapi masyarakat harus mamu memandang lebih luas akan persoalan yang terjadi.
Salah satu komponen yang sering dijadikan sasaran penyebab menurunnya mutu pendidikan ialah kurikulum dan saat ini mulai diterapkan kurikulum berbasis kompotens dan kopentsi tingkat satuan pendidikani maksudnya kurikulum sebagai rujukan pengalaman belajar yang diarahkan bagi tercapainya penguasan kompotensi. Dalan hal ini diperlukan sekurang-kurangnya lima pemain yang dapat menentukan maju mundurnya mutu pendidikan. Diantarnay masyarakat lokal, orang tua, beserta didik, Negara dan pengelola profesional pendidikan.
Denagan posisinya sebagai tenaga utama kependidikan, dipundak gurulah peran sentral kemajuan pendidikan dipercayakan. Dengan posisinya digarda terdepan yang bersentuhan langsung dengan peserta didik, pern dan tanggung jawab guru sungguh fital dalam membawa peningkatan mutu pendidikan. Sebagai pelaku utama yang berada dilini terdepan dalam proses pembelajaran, maka didikan, bimbingan dan pelatihan yang diberikan guru kepad peserta didik menjadi penentu dalam menghantar kesuksesan pendidikan.
Jalan utama untuk mensukseskan pendidikan adalah meningkatkan kualitas profesionalisme guru dan hanya pada guru prfesional sebagai tenaga profesi dalam bidang pedidikan yang dapat menjalankan tugasnya membangun mutu pendidikan dengan lingkup tugasnya yang demikian ditengah tuntutan tugas yang terus berkembang sejalan dinamika perkembangan iptek, dan kian kian kiatnya harapan terhadap pemenuhan kebutuhan untuk membentuk kompetensi peserta didik, maka hanya guru yang memiliki kompeten profesional yang dapat menerjemahkan dan mewujudkan harapan peningkatan kualitas pendidikan. Pintu kerbang untuk melahirkn sosok guru profesional tersebut berada dipundak lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).
kompetensi profesional guru ditunjukkan pula oleh kemampuan guru dalam megembangkan materi studi yang diajarkan dalam bentuk penelitian dan secara nyata menghasilkan karya-karya produktif sepreti penulisan bahan ajar, termasuk menulis buku yang berkaitan dengan meteri yang diajarkan. Materi yang dikuasai bukan hanya sekedar materi ajar yang di ajarka sekolah sesuai sabaran dalam kurikulum sekolah, melainkan pula materi yang memayunginya. Dengan menguasai materi yang memayunginya, maka diharapkan guru akan mampu menjelaskan materi ajar dengan baik, dengan ilustrasi jelas dan landasan yang mapan, dan dapat memberikan contoh yang kontekstual. Di samping itu, dikuasai pula struktur keilmuan dari bidang keahliannya.
Dengan meningkatkan dedikasi, loyalitas dan profesionalisme guru akan memilki dampak positif terhadap kinerja dan prestasi guru. Pada akhirnya juga akan berdampak pada peningkatkan kualitas sebagai kontribusinya dalam kegiatan pembangunan bangsa. Prestasi kerja guru ini sangat penting karena merupakan wujud dari harkat dan martabat guru yang mulia dalam mengabdi pada kemanusiaan dan kesetiaan pada bangasa dan Negara.
Selain itu mimang harus diakui bahwa dalam proses membangun sebuah bangsa kontribusi pemikiran menjadi modal utama. Makanya pembangunan SDM menjadi hal penting dalam proses tersebut. Dan dalam melakukan hal tersebut kegiatan yang terorganisir menjadi penting dilakukan dalam mempermudah menjcapai apa yang dinginkan. Termasuk oleh seorang guru, sabagai salah satu pilar penting dalam pendidikan.
Dalam proses tersebut PGRI-lah sebagai salah satu organisasi guru yang tepat untuk menjadi media dalam melakukan proses. Sebab peningkatan profesionalisme guru juga merupakan cita-cita luhur yang juga diperjuangkan oleh PGRI. Melalui program dan aktifitas lainnya yang telah diorganisir dengan rapi PGRI menjadi salah satu organisasi yang akan tetap mengawal lahirnya guru-guru profesional. Sederhananya PGRI merupakan organisasi yang berjuang dalam meningkatkan profesionalisme guru, selain dari memperjungkan kesejahteraan guru.





DAFTAR PUSTAKA

Musaheri. 2009. Ke-PGRI-an. Sumenep: DIVA Press

Purwanto, Ngalim. 1984. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Mutiara

Sid, Indra. 2002. Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta: Paramadina

Usman, Uzer. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

DINAMIKA PGRI PADA MASA REFORMASI


Mengawali kiprah yang ditandai adanya perubahan orde senantiasa mewarnai iklim di tubuh PGRI. Pergantian orde dari orde lama menuju orde baru terus berjalan ke era reformasi. Pergartian yang ditandai dengan lengsernya orang nomor satu di Indonesia dan telah memegang kendali pemerintahan selama 32 tahun yakni Presiden Soeharto atas dasar demokrasi merupakan suatu wujud ditandainya orde yang penuh demokratis yakni era reformasi.
Era reformasi merupakan suatu kurun waktu yang ditandai dengan berbagai perubahan untuk membentuk suatu keseluruhan tatanan baru yang lebih baik. Era reformasi ditandai dengan runtuhnya sebuah rezim orde baru yang otoriter. Yang dengan sifat otoriternya maka sistem pemerintahannya sentralistik, termasuk juga dalam bidang pendidikan yang sangat memusat. Setelah orde baru tumbang maka perubahan menjadi pilihan pembangunan bangsa. Dan era perubahan itulah yang dikenal era reformasi. Perubahan dalam reformasi dilakukan secara konsepsional dan konstitusional dengan strategi dan program yang lebih efektif dalam suasana madani.
Perjuangan PGRI pada masa reformasi ini meliputi bidang keorganisasian, kesejahteraan, ketenagakerjaan, perundang-undangan, reformasi pendidikan nasional serta kemitraan nasional dan internasional. Pada masa sekarang ini masih banyak pula pihak yang memandang PGRI hanya sebagai aspek tertentu yang sempit dalam bentuk serpihan-serpihan yang tidak terpadu dan dilandasi oleh kepentingan tertentu, sebagai akibatnya banyak berkembang persepsi yang kurang baik terhadap PGRI dan ini sudah banyak menimbulkan berbagai hal yang kurang menguntungkan bagi PGRI dan terutama pada anggotanya.
Seperti yang kita ketahui dalam pasal (4) Anggaran Dasar(AD) PGRI dijelaskan bahwa PGRI merupakan organisasi nasional yang bersifat unitaristik (mewadahi semua guru tanpa memandang ijazah, tempat bekerja, kedudukan dan lain-lain), independent (PGRI berlandaskan pada prinsip-prinsip kemandirian organisasi dengan mengutamakan mitra kesejajaran) dan non politik praktis (tidak terikat atau mengikatkan diri pada kekuatan organisasi atau partai politik manapun). Kesejahteraan guru merupakan inti dari keseluruhan perjuangan PGRI.
Dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan pendidikan nasional, PB PGRI ikut berperan serta secara aktif dengan memberikan masukan pada pemerintah agar berbagai agenda reformasi yang sedang dan akan dilaksanakan dapat terwujud dengan tepat. Salah satu komponen yang sering dijadikan sasaran penyebab menurunnya mutu pendidikan yaitu kurikulum. Kritikan yang cukup tajam terhadap kurikulum antara lain materinya terlalu padat, tidak sesuai dengan kebutuhan bahkan merepotkan guru dalam menjalankan aktivitasnya dibidang akademik..
Upaya reformasi pendidikan pada sistem nasional hanya akan terwujud apabila guru mendapat tempat yang sentral dan menjadi prioritas utama. Sehubungan dengan itu, PGRI menekankan agar masalah guru pada era reformasi pada pendidikan nasional diharapkan mendapat perhatian dan prioritas utama mengingat peranan guru yang fundamental. Sebab dengan demikian perbaikan dalam dunia pendidikan akan terwujud. Persoalan pelik dalam pendidikan, yakni persoalan mutu dengan sendirinya juga akan teratasi. Namun jika itu tidak terpenuhi, maka keberadaan dunia pendidikan tidak akan pernah menjadi baik. Masalah mutu yang sekarang menjadi persoalan yang paling krusial dalam pendidikan juga sulit untuk teratasi.
Pada era reformasi, di tubuh PGRI juga mengalami perubahan yakni dengan melakukan penyesuaian AD/ ART organisasi dan sesuai dengan tantangan dan tuntutan reformasi yang ditandai dengan kongres ke XVIII di Bandung. Selain dari pada itu perubahan sebagai organisasi yang mampu beradaptasi dan mewujudkan dirinya sebagai the learnig organization (organisasi pembelajar).
Itulah sekilas gambaran tentang kiprah PGRi dan dinamikanya sampai pada era reformasi. Meski tidak bisa terdiskripsikan secara utuh, namun paling tidak itu juga bisa memberikan kontribusi pemahaman. Sebab saat ini keberadaan guru memang masih memprihatinkan yang imbasnya pendidikan juga sudah mulai menurun. Maka pada masa yang seperti ini kontribusi pemikiran, kajian, dan diskusi tentang persoalan pendidikan, termasuk juga PGRI sebagai organisasi guru dalam rangka mencari solusi yang lebih baik bagi masa depan pendidikan bangsa kita. Dan tentu apa yang menjadi malasah dalam dunia pendidikan seperti dijelaskan di atas juga harus dipikirkan oleh PGRI. Harus diakui itu juga merupakan tantangan masa depan PGRI.


DAFTAR PUSTAKA

Kartono. 2002. Menebus Pendidikan yang Tergadai. Yogyakarta: Kanisus

Musaheri. 2009. Ke-PGRI-an. Sumenep: DIVA Press

Muyasa. 2006. Managemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Suryasubroto. 1997. Proses Belajat Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

GURU ANGGOTA PGRI BERIKHTIAR UNTUK MEMILIKI LOYALITAS, DEDIKASI DISIPLIN, DAN KEMAMPUAN PROFESIONAL DALAM PELAKSANAAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI PGRI


Kompleksitas permasalahan pendidikan membuat segenap pelaku pendidiikan bekerja ekstra dan saling berkompetisi dalam memberikan kontribusinya terhadap pendidikan sebagai bentuk pengabdiannya dalam menentukan arah pendidikan kedepan. Dedikasi, krtedibilitas, komitmen dan kompetensi serta sikap profesionalisme dibutuhkan dalam memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam sebuah proses pendidikan, guru menjadi penentu keberhasilan. Keberadaan guru akan sangat penting untuk memberikan perbaikan, khususnya dalam proses pembelajaran. Dari situlah kemudian profesionalisme menjadi wajib dimiliki oleh seorang guru dalam mengemban amanah mulia tersebut. Sebab hanya dengan demikian, proses pendidikan akan mencapai cita-cita luhur yang memang menjadi keinginan para pendahulunya. Sikap profesionalisme seorang guru tidak hanya diperlukan di lingkup persekolahan di perlukan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Serta sebagai bentuk unjuk prestasi baik di tingkat regional, nasional maupun internasional.
Organisasi PGRI merupakan wadah tempat berhimpunnya segenap guru dan tenaga kepandidikan lainnya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan yang berdasarkan asas pancasila/ manipol.
PGRI sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan adalah bersifat unitaristik tanpa memandang perbedaan ijazah, tempat kerja, kedudukan, suku, agama dan asal usul. Disamping itu PGRI juga bersifat independen dan tidak berplitik praktis yang bisa menghancurkan organisasi.

berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki PGRI tersebut sehingga sangtlah patut seorang guru sebagaii ujung tombank dari aktifitas pendidikan diharapkan bahkan harus mampu menjalankan atau bersikap profesional sesuai dengan sifat yang dimiliki oleh PGRI itu sendiri dalam meningkatkan mutu pendidikan persekolahan.
Guru merupakan profesi bidang pendidikan. Suatu profesi memiliki ciri spesifik. Menurut surya (1999) mengidentifikasikan karakteristik guru professional tinjau dari sudut pandang siswa, orang tua serta ditinjau dari sudut pandang pemerintah, masyarakat dan budaya. Dari sudut pandang siswa guru profesional adalah guru berkualitas yang memiliki penampilan sedemikian rupa sebagai sumber motivasi dan inspirasi belajar yang menyenangkan bagi anak didiknya sehingga tercipta kretifitas. Pada umumnya siswa mengharapkan guru memiliki sifat-sifat yang ideal sebagai sumber keteladanan, bersikap murah dan penuh kasih sayang, penyabar, mengeuasai berbagai model pembelajaran sehingga proses belajar tidak menjenuhkan dan siswa tidak merasa bosan karena kekayaan metode yang dimiliki sang guru.
Dari sudut pandang orang tua siswa guru profesional adalah pribadi yang diharapkan dapat menjadi mitra pendidikan bagi anak-anak yang akan dididik. Orang tua berharap agar guru dapat menggantikan peran orang tua di sekolah sehingga dapat melengkapi, menambah, memperbaiki pola-pola pendidikan di dalam keluarga. Itulah sebuah harapan besar yang dimiliki oleh orang tua anak didik terhadap guru. Dan dengan demikian guru senantiasa akan mampu menjalankan fungsinya sebagai mana mestinya. Oleh sebab itulah akan terjadi sinergisitas dan simbiosis motualisme antara orang tua murid dengan guru. Yang itu semua akan sangat membantu dalam proses pendidikan.
Dengan memandang posisinya sebagai tenaga utama dalam kependidikan, dipundak gurulah peran sentral kemajuan pendidikan dipercayakan. Peran dan tanggung jawab guru sangat vital dalam membawa peningkatan mutu pendidikan dimana proses pembelajaran, didikan, bimbingan dan pelatihan yang diberikan guru menjadi penentu dalam mengantar kesuksesan anak didik sebagai penerus masa depan bangsa. dengan kata lain guru juga menjadi penentu terhadap kemajuan bangsa.
jika dilihat dari pentingnya posisi guru dalam pendidikan.Dengan demikian, maka jalan utama untuk mensukseskan pendidikan adalah peningkatkan kualitas dan profesionalisme guru, hanya pada guru professional sebagai tenaga profesi dalam bidang pendidikan yang dapat menjalankan tugasnya dalam membangun mutu pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA

Batubara, Muhyi. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Ciputat Prass

Gie Liang. 1999. Pendidikan Ilmu di Negara indonesia. Yogyakarta: PUBIB

Musaheri. 2009. Ke-PGRI-an. Sumenep: DIVA Press

Usman, Uzer. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


HAK-HAK ANGGOTA PGRI SEBAGAI MODAL DASAR DALAM MEMAJUKAN PROFESIONALISME GURU


Dalam hak anggota PGRI sebagai modal dasar dalam memajukan profesionalisme guru merupakan gambaran sistem kerjasama dari PGRI. PGRI merupakan suatu wadah berhimpunnya segenap guru serta tenaga pendidik yang lainnya yang menjadikan pancasila sebagai pedoman bangsa indonesia. Keanggotaan yang ada di PGRI yaitu warga negara indonesia yang dengan suka rela mengajukan permohonan menjadi anggota dan memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam anggaran dasar rumah tangga (AD/ART) serta mempunyai kewajiban untuk menjunjung tinggi nama dan harkat martabat organisasi serta mematuhi kode etik dalam bersikap dan perilaku yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas yang harus mempunyai disiplin diri dan rasa tangghung jawab yang tinggi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.
Selain itu keanggotaan PGRI juga memilki hak bicara atau hak yang diberikan kepada anggota untuk mengeluarkan gagasan atau ide-iede baru untuk meningkatkan peserta didik. Adanya hak suara atau dengan kata lain hak yang diberikan kepada anggota dalam rangka berproses, seperti contoh misalnhya anghota PGRI dapat melahirkan peserta didik untuk guru yang berprofesional.
 Anak lembaga PGRI merupakan suatu instansi pengembangan dari induk lembaga PGRI, terbantuknya forum ini sebagai anak lembaga yakni dalam rangka menagani suatu persoalan khusus yang terjadi. yang disebut perkumpulan pembina lembaga pendidikan PGRI (PPLP), kerna PGRI memilki tugas yakni menangani pendirian, pembinaan pengembangan dan melindungi serta menangani peermasalahan dalam PGRI.
Dalam meningkatkan konsolidasi kita dapat mempersatukan anggota PGRI salah satunya dengan sistem informasi dan komonikasi yang bermanfaat dapat memberikan gambaran aktifitas pada masing-masing peserta didik, serta pengalaman suatu pengurus dan dapat memperoleh berbagai informasi khususnya berbagai jenis kegiatan yanag telah dilaksanakan oleh berbagai jenjang lainnya, selain itu konsolidasi juga dapat menimbulkan rasa saling dorong yang sifatnya konstruktif antar jajaran sehingga menimbulkan kesamaan persepsi, threaded suatu hal sehingga dalam pengambilan keputusan dapat lebih mudah.
Adakannya pertemuan PGRI dalam suatu forum dapat menginformasikan secara langsung barbagai kebijakan terbaru dalam dunia pendidikan. Dan hal tersebut juga akan bisa menjadi ajang untuk bertukar ide, gagasan dan pikiran dari semua kalangan pemikir yang ada di PGRI. Sebab dengan demikian solusi-solusi cerdas tentang pendidikan juga akan muncul guna menjawab semua problem pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Musaheri, Ke-PGRI-an, Yogyakarta: New Elmatera, 2011.
  • Slameto. 1987. Teori-Teori Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
  • Tilaar. 2001. Managemen Pendidikan NasionalL Bandung: PT Remaja Rosdakarya

GURU ANGGOTA PGRI BERPERAN PENTING MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN


Kemajuan dunia pendidikan di tentukan oleh segenap pemangku pendidikan. Pendidiakan bukan urusan semata belaka melainkan semua pihak harus peduli, ada kesadaran dari partisipasi dan akhirnya ada tangung jawab dari semua pihak untuk membangun dunia pendidikan berkualitas (Musaheri : 2007)
Dalam membangun dunia pendidikan dewasa ini, guru anggota PGRI dalam meningkatkan mutu pendidikan karena memerlukan berbagai elemen yang mendukungnya. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan sangat diperlukan dalam era globalisasi saat ini. Dengan adanya pendidikan yang baik dan benar, secara langsung kita telah mempersiapkan generasi masa depan yang yang cemerlang dan kehidupan yang layak.
Dalam pendidikan, yang paling ditekankan adalah prosesnya, karena pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung dari diri peserta didik karena itu pendidikan sangat menekankan pada proses, maka sebagai pendidik kita harus mengetahui bahwa tumpuan utama pendidikan ada pada pendidikan dan peserta didik.
Pendidikan merupakan proses pendewasaan bagi anak didik dan sebagai media pengembangan segenap potensi yang dimiliki sehingga pada akhirnya anak didik mampu mewujudkan cita-cita yang diinginkan. Dalam proses pendidikan Peserta didik sangat memerlukan pertolongan dari seorang guru dalam bentuk bimbingan, pembalajaran atau pelatihan supaya rohaninya (fikir, rasa, karsa, cipta dan budi nurani) berkembang dan jasmaninya (fisik dan panca indra) tumbuh sehat. Disitulah urgensi keberadaan guru sangat dipentingkan.
Kunci sukses pembelajaran adalah dengan menempatkan peserta didik sebagai subjek, bukan objek pembelajaran. Pembelajaran bisa efektif bila menempatkan peserta didik sebagai pusat kegiatannya. Sedangkan guru menghargai dan menghormati masing-masing pribadi peserta didik, keunikan, kemampuan dan potensi belajar mereka. Penerimaan apa adanya akan menciptakan suasana yang merdeka dan nyaman, sehingga dapat membangun relasi pribadi dengan guru dan temannya secara bebas dan terbuka. Mereka akan selalu jujur mengekspresikan apa yang dirasakan di dalam hati dan mengutarakan gagasan yang ada dalam pikirannya. Yang pada akhirnya proses pembelajaran betul-betul mampu mengejawantahkan tujuan hakiki dari pendidikan yakni memanusiakan manusia. Atau dalam bahasa yang berbeda bisa membentuk manusia seutuhnya.
Guru harus mampu dan memiliki kepekaan menangkap kata-kata dan bagaimana cara mengatakannya sehingga mudah dimengerti oleh peserta didik. Disinilah diperlukan kreatifitas dan kemampuan agar betul-betul bisa berbuat sesuai kebutuhan anak didik. Akan menjadi mala petaka pendidikan jika tuntutan tersebut tidak bisa dipenuhi oleh seorang guru. Dan dengan sendirinya apa yang menjadi pesan yang harus disampaikan oleh guru tidak tersampaikan.
Dalam hal ini Guru tidak sekedar mendengarkan kata-kata yang terucap, tetapi juga yang secara non verbal maksudnya ketika mendengarkan sikap guru tidak mengadili, namun sungguh menempatkan diri sebagai pendengar yang baik. Guru juga harus melaksanakan 4 kompetensinya diantaranya kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan professional.
Guru sebagai tenaga inti kependidikan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal dan membangun pertumbuhan yang dapat menunjang perkembangan peserta didik. Dengan demikian, guru harus memiliki modal dasar penting dalam mengarahkan peserta didik untuk mencapai yang diharapkan baik perkembangan ranah afektif, kognetif dan psikomotoriknya.


DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. 2007. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: PT Bumi Aksara

Musaheri. 2009. Ke-PGRI-an. Sumenep: DIVA Press

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004, Pertsanyaan dan Jawaban. Jakarta: Orasindo

Sid, Indra. 2002. Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta: Paramadina

Kamis, 26 April 2012

MEMORANDUM IN UNIRA 2009


P
elatihan itu akan berlangsung selama tiga hari, semuanya telah aku persiapkan satu hari sebelum aku ikut pelatihan. Dar i uang saku termasuk peralatan mandi dan shalat, hanya satu yang tak pernah terpikirkan olehku yaitu masalah baju yang akan dipakai pada acara pelatihan nanti, tentunya aku harus ganti baju selama pelatihan itu tapi apalah gunanya karena aku memang tidak pernah punyak baju untuk gonta-ganti karena aku berasal dari keluarga yang tidak mampu. Soal baju bukanlah hal yang bersifat primer dalam keluargaku karena masih banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi dari pada harus memenuhi sandang. Kalaupun aku punyak uang bukan untuk beli baju, mungkin dalam satu tahun cuma satu kali aku merasakan memakai baju baru yakni pada hari raya, tapi itu kalau kami punyak uang lebih kadang aku hanya nyetrika baju yang masih layak pakai biar agak terlihat rapi meskipun warnanya udah agak lesuh.
Sore hari aku pamit sama ibu dan nenek, berat rasanya bagiku meninggalkan keluargaku yang hanya tinggal ibu dan nenek. Aku bisa merasakan kebimbangan mereka, itu terlihat ketika aku pamit pada mereka. Raut wajah ibu sudah terlihat akan kehawatirannya apalagi ketika aku tatap mata ibu, terlihatlah dengan jelas linangan air matanya, hanya mungkin ibu berusaha untuk menutupinya agar aku bisa tetap tenang dan selamat sampai tujuan.
Jam lima aku berangkat ke Sumenep, di sana sekitar  lima orang yang juga akan ikut pelatihan di Pamekasan, sesampai di kontrakan temanku, aku langsung menemui mereka dan menanyakan kita akan berangkat malam ini atau besok pagi-pagi benar?. Ternyata semua rencana semula gagal, yang seharusnya lima orang yang akan ikut pelatihan, kini tinggal aku sendiri karena yang lain tidak bisa ikut karena bertepatan dengan acara mereka masing-masing.
Terpaksa aku harus bermalam di kontrakan dulu karena tidak mungkin aku berangkat sendirian apalagi malam-malam. Lagian aku masih mempunyai kesempatan untuk berpikir, apa aku jadi ikut pelatihan meskipun sendirian atau aku gagalkan saja. Akhirnya dengan tekad bulat kuputuskan untuk tetap berangkat walaupun aku sendirian ke sana. …….NEXT EDITION